History

Beberapa pakar sejarah telah menemukan bukti-bukti kuat bahwa Indonesia dapat dikatagorikan sebagai salah satu Imperium besar bukan hanya di Asia melainkan di dunia selain Romawi, dan Mongolia ratusan tahun sebelum penjelajahan samudera oleh bangsa Eropa.
Seperti kita ketahui bahwa dua kerajaan besar di Indonesia yaitu Majapahit dan Sriwijaya adalah penguasa besar di Asia saat itu yang menguasai daerah yang sangat luas di selatan selain kerajaan China di utara.
Wilayah Majapahit dan Sriwijaya membentang luas dari samudera Hindia di bagian selatan, samudera pasifik di timur, benua Australia di selatan dan semenanjung Malaya di utara.
Majapahit dan Sriwijaya dapat berafiliasi dengan kerajaan-kerajaan lain di seluruh wilayah tersebut.
Bukti-bukti yang tidak terbantahkan antara lain bagaimana pengaruh peninggalan bangsa Indonesia di Afrika bagian timur (Afrika Selatan dan Madagaskar) hal ini sudah diteliti dan diakui oleh sejarawan-sejarawan dunia (lihat Microsoft Encarta).
Sementara di bagian timur pengaruh Majapahit begitu terasa hingga sekarang, di Filipina Selatan hingga Guam di tengah Samudera Pasifik, bahasa lokal sangat dipengaruhi oleh bahasa Jawa. Terbukti perhitungan angka 1-10 mirip sekali Bahasa Jawa (lihat : Microsoft Encarta). Sementara Sriwijaya sangat kuat di bagian utara, hanya Cina dan India lah pesaing kekuatan Sriwijaya. Mengapa Bahasa Melayu dipakai juga di Malaysia ? Berdasarkan bukti-bukti sejarah dari prasasti-prasati yang ditemukan bahkan yang ditemukan di Malaysia sekalipun menunjukkan bahwa kerajaan-kerajaan kecil di semenanjung Malaya adalah taklukan dari Imperium Sriwijaya. Hampir semua peneliti yang kebanyakan adalah peneliti Eropa telah sependapat mengenai hal ini.
Bangsa Inggris mengklaim bahwa James Cook adalah penemu benua Australia. Tidak salah memang karena istilah penemu ini untuk bangsa Eropa. Dengan kata lain James Cook adalah orang Eropa pertama yang mencapai Australia. Karena Pelaut-pelaut Bugis telah lama hilir mudik ke Australia hingga Afrika Selatan.
Bagaimana dengan Malaysia ?
Kebanyakan kerajaan-kerajaan di Malaysia adalah kerajaan-kerajaan kecil yang dulunya takluk oleh kekuasaan Sriwijaya hingga masuknya Islam. Bahkan banyak dari kerajaan-kerajaan ini berdiri setelah Islam masuk ke semenanjung Malaya. Kebanyakan dari kerajaan kecil ini kemudian dengan mudah ditaklukkan oleh Inggris dan kemudian di"besarkan" oleh feodalisme Inggris sebagai bagian dari "pegawai" Inggris.
Berbeda dengan Belanda yang sangat sulit menguasai Indonesia bahkan hingga abad ke 20 beberapa kerajaan belum bisa ditaklukkan oleh Belanda. Kerajaan Aceh adalah contoh nyata bahwa Belanda tidak dapat menaklukkan seluruh kerajaan di Indonesia selama berabad-abad. Dapat dikatakan hampir di seluruh Indonesia terdapat daerah-daerah yang sangat sulit ditaklukkan oleh Belanda seperti Banjar (Kalimantan Selatan), Makasar, Maluku Utara, sebagian Mataram (P. Diponegoro), Sebagian Sumatera (Perang Paderi), Bali dll. Hal inilah yang menyebabkan setelah perang Dunia II Belanda tidak dapat kembali datang ke Indonesia walaupun telah melancarkan Agresi Militer sebanyak 2 kali dengan meminta dukungan pasukan Sekutu di bawah pimpinan Inggris, bahkan Inggris telah berkorban demi Belanda dengan tewasnya ribuan pasukannya di Surabaya pada bulan November 1945 beberapa bulan setelah Sekutu memenangkan Perang Dunia Ke II plus tewasnya seorang Jenderal Sekutu yaitu Brigjen W.S. Mallaby di tangan tentara Indonesia yang baru dibentuk beberapa bulan sebelumnya. Tewasnya Jenderal Inggris di Indonesia menambah deret panjang Petinggi-petinggi Pasukan Eropa yang Tewas di Indonesia. Sebelumnya Gub Jenderal Jan Pieter S. Coon pun tewas setelah terkepung di bentengnya di Batavia oleh pasukan Mataram. Pada akhirnya Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Indonesia setelah beberapa bulan sebelumnya ternyata mereka sangat kesulitan menguasai Indonesia bahkan pada bulan maret 1949 ibukota Republik Indonesia saat itu Yogyakarta dapat direbut secara total oleh pasukan TNI. Keberhasilan Indonesia dalam mengusir Belanda menjadi acuan baru dalam perang gerilya. Beberapa tahun kemudian Ho Chi Min, pemimpin legendaris Vietnam yang saat itu sedang menghadapi pasukan Perancis dan kemudian Amerika Serikat datang ke Indonesia untuk berbagi atau lebih tepat belajar bagaimana perang gerilya. Tepat ! Indonesia adalah tempat yang tepat untuk belajar. Beberapa tahun kemudian Vietnam Utara dapat membebaskan diri dari Perancis dan dapat mempermalukan Amerika Serikat di Vietnam Selatan dengan membunuh 60.000-an tentara Amerika Serikat. Indonesia dan Vietnam adalah 2 negara yang sangat berhasil dalam menghadapi Imperialisme di Asia dengan perlawanan bersenjata. Itulah yang disebut Nasionalisme Sejati. (Tri Wibowo)

Merdeka ! (bukan dimerdekakan!)